Masjid Agung Demak
Dari Wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia bebas
|
Masjid
Agung Demak
|
|
|
Tampak
depan dari Masjid Agung Demak
|
|
|
Letak
|
|
|
Afiliasi agama
|
|
|
Deskripsi
arsitektur
|
|
|
Jenis arsitektur
|
Masjid
|
|
Gaya arsitektur
|
Jawa
|
|
Spesifikasi
|
|
Masjid Agung
Demak di akhir abad ke-19
Masjid Agung
Demak adalah salah
satu mesjid tertua yang ada di Indonesia. Masjid ini terletak di desa Kauman, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Masjid ini dipercayai pernah menjadi
tempat berkumpulnya para ulama (wali) yang menyebarkan agama Islam ditanah Jawayang disebut dengan Walisongo. Pendiri masjid ini diperkirakan
adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak sekitar abad ke-15 Masehi.
Masjid Agung
Demak juga telah dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO semenjak tahun 1995.
Arsitektur
Masjid ini
mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat
tiang utama yang disebut saka guru. Tiang ini konon berasal dari
serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai saka tatal. Bangunan serambi
merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang
disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang
menggambarkan ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di Masjid ini juga
terdapat “Pintu Bledeg”, bertuliskan Condro Sengkolo, yang berbunyi Nogo Mulat Saliro
Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.
Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Maha karya abadi
yang karismatik ini dengan memberi prasasti bergambar bulus. Ini merupakan
Condro Sengkolo Memet, dengan arti Sariro Sunyi Kiblating Gusti yang
bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri dari kepala yang berarti angka 1
( satu ), kaki 4 berarti angka 4 ( empat ), badan bulus berarti angka 0 ( nol
), ekor bulus berarti angka 1 ( satu ). Bisa disimpulkan, Masjid Agung Demak
berdiri pada tahun 1401 Saka.
Di dalam lokasi
kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di sana juga terdapat sebuah Museum Masjid Agung Demak, yang berisi berbagai hal mengenai
riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.
|
|
|
|
|
Artikel bertopik masjid ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia
dengan mengembangkannya.
|
- Halaman ini terakhir diubah pada 02.55, 13 Juli 2012.
- Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi/Berbagi Serupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.
- Home
- Artikel
- Auto
- Eng (us)
- Entertainment
- Food
- Health
- Lifestyle
- lyrics
- Photo
- Retail
- Technology
- Travel
- Video
Sejarah dan Keistimewaan Masjid Demak

(Sejarah
dan Keistimewaan Masjid Demak) – Masjid Agung Demak
adalah sebuah mesjid yang tertua di Indonesia. Masjid ini terletak di desa Kauman,
Demak, Jawa Tengah. Masjid ini dipercayai pernah merupakan tempat berkumpulnya para ulama (wali)
penyebar agama Islam, disebut juga Walisongo,
untuk membahas penyebaran agama Islam di Tanah Jawa
khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah
Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak.
Bangunan yang terbuat dari kayu jati ini berukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi berukuran 31 m x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh empat buah tiang kayu raksasa (saka guru), yang dibuat oleh empat wali di antara Wali Songo. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut yang tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal), merupakan sumbangan dari Sunan Kalijaga. Serambinya dengan delapan buah tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adipati Yunus (Pati Unus atau pangeran Sabrang Lor), sultan Demak ke-2 (1518-1521) pada tahun 1520.
Bangunan yang terbuat dari kayu jati ini berukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi berukuran 31 m x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh empat buah tiang kayu raksasa (saka guru), yang dibuat oleh empat wali di antara Wali Songo. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut yang tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal), merupakan sumbangan dari Sunan Kalijaga. Serambinya dengan delapan buah tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adipati Yunus (Pati Unus atau pangeran Sabrang Lor), sultan Demak ke-2 (1518-1521) pada tahun 1520.
A. Selayang Pandang
Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini memiliki nilai historis yang sangat penting bagi perkembangan Islam di tanah air, tepatnya pada masa Kesultanan Demak Bintoro. Banyak masyarakat memercayai masjid ini sebagai tempat berkumpulnya para wali penyebar agama Islam, yang lebih dikenal dengan sebutan Walisongo (Wali Sembilan). Para wali ini sering berkumpul untuk beribadah, berdiskusi tentang penyebaran agama Islam, dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada penduduk sekitar. Oleh karenanya, masjid ini bisa dianggap sebagai monumen hidup penyebaran Islam di Indonesia dan bukti kemegahan Kesultanan Demak Bintoro.
Fortuner SUV Terbaik
Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini memiliki nilai historis yang sangat penting bagi perkembangan Islam di tanah air, tepatnya pada masa Kesultanan Demak Bintoro. Banyak masyarakat memercayai masjid ini sebagai tempat berkumpulnya para wali penyebar agama Islam, yang lebih dikenal dengan sebutan Walisongo (Wali Sembilan). Para wali ini sering berkumpul untuk beribadah, berdiskusi tentang penyebaran agama Islam, dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada penduduk sekitar. Oleh karenanya, masjid ini bisa dianggap sebagai monumen hidup penyebaran Islam di Indonesia dan bukti kemegahan Kesultanan Demak Bintoro.
Fortuner SUV Terbaik
Masjid Agung Demak didirikan
dalam tiga tahap. Tahap pembangunan pertama adalah pada tahun 1466. Ketika itu
masjid ini masih berupa bangunan Pondok Pesantren Glagahwangi di bawah
asuhan Sunan Ampel. Pada tahun 1477, masjid ini dibangun kembali sebagai
masjid Kadipaten Glagahwangi Demak. Pada tahun 1478, ketika Raden Fatah
diangkat sebagai Sultan I Demak, masjid ini direnovasi dengan penambahan
tiga trap. Raden Fatah bersama Walisongo memimpin proses pembangunan masjid
ini dengan dibantu masyarakat sekitar. Para wali saling membagi tugasnya
masing-masing. Secara umum, para wali menggarap soko guru yang menjadi
tiang utama penyangga masjid. Namun, ada empat wali yang secara khusus
memimpin pembuatan soko guru lainnya, yaitu: Sunan Bonang memimpin
membuat soko guru di bagian barat laut; Sunan Kalijaga membuat soko guru
di bagian timur laut; Sunan Ampel membuat soko guru di bagian tenggara;
dan Sunan Gunungjati membuat soko guru di sebelah barat daya.
B. Keistimewaan
Luas keseluruhan bangunan utama Masjid Agung Demak adalah 31 x 31 m2. Di samping bangunan utama, juga terdapat serambi masjid yang berukuran 31 x 15 m dengan panjang keliling 35 x 2,35 m; bedug dengan ukuran 3,5 x 2,5 m; dan tatak rambat dengan ukuran 25 x 3 m. Serambi masjid berbentuk bangunan yang terbuka. Bangunan masjid ditopang dengan 128 soko, yang empat di antaranya merupakan soko guru sebagai penyangga utamanya. Tiang penyangga bangunan masjid berjumlah 50 buah, tiang penyangga serambi berjumlah 28 buah, dan tiang kelilingnya berjumlah 16 buah.
Luas keseluruhan bangunan utama Masjid Agung Demak adalah 31 x 31 m2. Di samping bangunan utama, juga terdapat serambi masjid yang berukuran 31 x 15 m dengan panjang keliling 35 x 2,35 m; bedug dengan ukuran 3,5 x 2,5 m; dan tatak rambat dengan ukuran 25 x 3 m. Serambi masjid berbentuk bangunan yang terbuka. Bangunan masjid ditopang dengan 128 soko, yang empat di antaranya merupakan soko guru sebagai penyangga utamanya. Tiang penyangga bangunan masjid berjumlah 50 buah, tiang penyangga serambi berjumlah 28 buah, dan tiang kelilingnya berjumlah 16 buah.
Masjid ini memiliki
keistimewaan berupa arsitektur khas ala Nusantara. Masjid ini menggunakan
atap limas bersusun tiga yang berbentuk segitiga sama kaki. Atap limas
ini berbeda dengan umumnya atap masjid di Timur Tengah yang lebih terbiasa
dengan bentuk kubah. Ternyata model atap limas
bersusun tiga ini mempunyai makna, yaitu bahwa seorang beriman perlu
menapaki tiga tingkatan penting dalam keberagamaannya: iman, Islam, dan ihsan.
Di samping itu, masjid ini memiliki lima buah pintu yang menghubungkan
satu bagian dengan bagian lain, yang memiliki makna rukun Islam, yaitu
syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Masjid ini memiliki enam buah
jendela, yang juga memiliki makna rukun iman, yaitu percaya
kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari kiamat, dan qadha-qadar-Nya.
Bentuk bangunan masjid
banyak menggunakan bahan dari kayu. Dengan bahan ini, pembuatan bentuk
bulat dengan lengkung-lengkungan akan lebih mudah. Interior bagian dalam
masjid juga menggunakan bahan dari kayu dengan ukir-ukiran yang begitu
indah.
Bentuk bangunan masjid yang unik
tersebut ternyata hasil kreativitas masyarakat pada saat itu. Di samping banyak
mengadopsi perkembangan arsitektur lokal ketika itu, kondisi iklim tropis (di
antaranya berupa ketersediaan kayu) juga mempengaruhi proses pembangunan
masjid. Arsitektur bangunan lokal yang berkembang pada saat itu, seperti
joglo, memaksimalkan bentuk limas dengan ragam variasinya.
Masjid Agung Demak berada
di tengah kota dan menghadap ke alun-alun yang luas. Secara umum,
pembangunan kota-kota di Pulau Jawa banyak kemiripannya, yaitu suatu
bentuk satu-kesatuan antara bangunan masjid, keraton, dan alun-alun yang
berada di tengahnya. Pembangunan model ini diawali oleh Dinasti Demak
Bintoro. Diperkirakan, bekas Keraton Demak ini berada di sebelah selatan Masjid
Agung dan alun-alun.
Di lingkungan Masjid Agung Demak
ini terdapat sejumlah benda-benda peninggalan bersejarah, seperti Saka Tatal,
Dhampar Kencana, Saka Majapahit, dan Maksurah. Di samping itu, di
lingkungan masjid juga terdapat komplek makam sultan-sultan Demak dan
para abdinya, yang terbagi atas empat bagian:
- Makam Kasepuhan, yang terdiri atas 18 makam, antara lain makam Sultan Demak I (Raden Fatah) beserta istri-istri dan putra-putranya, yaitu Sultan Demak II (Raden Pati Unus) dan Pangeran Sedo Lepen (Raden Surowiyoto), serta makam putra Raden Fatah, Adipati Terung (Raden Husain).
- Makam Kaneman, yang terdiri atas 24 makam, antara lain makam Sultan Demak III (Raden Trenggono), makam istrinya, dan makam putranya, Sunan Prawoto (Raden Hariyo Bagus Mukmin).
- Makam di sebelah barat Lasepuhan dan Kaneman, yang terdiri atas makam Pangeran Arya Penangsang, Pangeran Jipang, Pangeran Arya Jenar, Pangeran Jaran Panoleh.
- Makam lainnya, seperti makam Syekh Maulana Maghribi, Pangeran Benowo, dan Singo Yudo.
C. Arsitektur
Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit.
Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit.
Di dalam lokasi kompleks Masjid
Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para
abdinya. Di sana juga terdapat sebuah museum, yang berisi berbagai hal mengenai
riwayat berdirinya Masjid Agung Demak.
D. Lokasi
Masjid Agung Demak terletak di Desa Kauman, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.
Masjid Agung Demak terletak di Desa Kauman, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.
E.
Akses
Letak masjid yang berada di tengah kota memudahkan bagi pengunjung untuk menuju lokasi, baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.
Letak masjid yang berada di tengah kota memudahkan bagi pengunjung untuk menuju lokasi, baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.
11 0
0
Related post
- Bryan Adams Empty Spaces
- Patent Cintamu Terasa Mati
- Glenn Fredly Akhir Cerita Cinta
- The 9 Most Common Mistakes to Avoid When Reading a Food Label
- Payung Teduh Berdua Saja
- Counting Crows I Wish I Was a Girl
- Korn Chi
- Millane Fernandez You Broke My Heart
- Ways To Improve Sales Through Your Website
- MAX5 Cinta Rahasia
Last post
- 10 Penyakit Yang Bisa Membuat Orang Jadi Marah Marah
- 2437 Daftar Nama di SK Inpassing Guru SD/SMP Bukan PNS 2012
- Glenn Fredly Malaikat Juga Tahu
- Glenn Fredly Luka Dan Cinta
- Five Minutes Galau
Healthy & Beauty
Healthy Life · Healthy Tips · Nutrisi · Life Style · Beauty · Body Works · Diet · Love & Sexs
Technology & Internet
Techno News · Games · Smartphone · Gadgets · Laptop · Automotive · Auto News ·
©DGMI
2012, All Rights Reserved · Diwarta · Term Of Use · Privacy Policy · Disclaimer Powered By: WebHosting Indonesia
· Fortuner SUV Terbaik
Searching
for masjid demak?
Cheap Hotel Deal
Complete
Information and Resouces about Cheap Hotel Deal
dr580.com
Click here
WISATA INDONESIA
menjelajahi tempat wisata nusantara yang
mengagumkan
Labels
- ALAMI (8)
- BAHARI (4)
- BELANJA (3)
- CANDI/SITUS (3)
- LAIN-LAIN (3)
- MONUMEN DAN MUSEUM (6)
- RELIGI (4)
- SEJARAH DAN BUDAYA (1)
- Taman (4)
ANDA BUTUH??
<p>Your
browser does not support iframes.</p>
Archieve
- ▼ 2011 (36)
- ► Desember (8)
- ► November (5)
- ▼ Oktober (21)
- KASONGAN HandyCraft and Tourism
- WADUK SERMO
- PULAU KOMODO ( road to new7wonders)
- TAMAN KYAI LANGGENG
- PANTAI KARTINI
- GEMBIRA LOKA
- MASJID DEMAK
- PRAMBANAN
- PANTAI PARANGTRITIS
- ISTANA TAMAN SARI
- BOROBUDUR
- PASAR KLEWER
- GUNUNG BROMO
- MAJT
- MERAPI DAN LAVA TOUR
- WISATA BAHARI LAMONGAN
- TELAGA SARANGAN
- COBAN RONDHO
- UBALAN KALASAN
- AIR TERJUN DOLO KEDIRI
- SIMPANG LIMA GUMUL
- ► September (2)
FOLLOW ME
MASJID DEMAK
<p>Your browser does not support
iframes.</p>
Masjid
Agung Demak adalah salah satu masjid tertua di indonesia. Masjid ini terletak
di desa Kauman, Kabupaten Demak, Propinsi Jawa Tengah. Masjid Demak ini
diyakini sebagai tempat berkumpulnya para wali yang menyebarkan agama Islam
ditanah jawa atau dikenal dengan sebutan walisongo. Pendiri masjid
ini adalah Raden Fatah, yaitu raja pertama dari Kerajaan/Kesultanan Demak
Bintoro, sekitar abad ke-15 Masehi.
Masjid
Demak yang memiliki ukuran 31 meter x 31 meter serta serambi ukuran 31 meter x
15 meter itu merupakan bangunan limas dengan keunikan tersendiri. Masjid Demak
disokong oleh 4 pilar atau tiang utama yang dibuat khusus oleh empat orang
wali.
Di
samping bangunan utama, juga terdapat serambi masjid yang berukuran31 x 15
m dengan panjang keliling 35 x 2,35 m, bedug dengan ukuran 3,5x 2,5 m,
dan tatak rambat dengan ukuran 25 x3 m.
Serambi
masjid berbentuk bangunan yang terbuka. Bangunan masjid ditopang dengan
128 soko/tiang, yang empat di antaranya merupakan soko guru sebagai penyangga
utamanya. Tiang penyangga bangunan masjid berjumlah 50 buah, tiang penyangga
serambi berjumlah 28 buah, dan tiang kelilingnya berjumlah 16 buah.
Masjid
Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini
memiliki nilai historis yang sangat penting bagi perkembangan dan penyebaran
agama Islam di tanah air, tepatnya pada masa Kesultanan Demak Bintoro. Banyak
masyarakat mempercayai masjid ini sebagai tempat berkumpulnya para wali.
penyebar agama Islam di tanah jawa, yang lebih dikenal dengan sebutan
Walisongo (WaliSembilan). Para wali ini sering berkumpul untuk beribadah,
berdiskusi tentang penyebaran agama Islam, dan mengajarkan ilmu-ilmu Islam
kepada penduduk sekitar. Oleh karenanya, masjid ini bisa dianggap sebagai saksi
hidup penyebaran agama Islam di Indonesia dan bukti kemegahan
Kesultanan Demak Bintoro.
Di
lingkungan Masjid Agung Demak ini terdapat sejumlah benda-benda peninggalan
bersejarah, seperti Saka Tatal, Dhampar Kencana, Saka Majapahit, dan Maksurah.
Di samping itu, di lingkungan masjid juga terdapat komplek makam
sultan-sultan Demak dan para abdinya, yang terbagi atas empat bagian:
1.
Makam Kasepuhan, yang terdiri atas 18 makam, antara lain makam
2.
Sultan Demak I (Raden Fatah) beserta istri-istri dan
putra-putranya, yaitu Sultan Demak II (Raden Pati Unus) dan Pangeran Sedo
Lepen (Raden Surowiyoto), serta makam putra Raden Fatah, Adipati Terung
(Raden Husain).
3.
Makam Kaneman, yang terdiri atas 24 makam, antara lain makam Sultan Demak III
(Raden Trenggono), makam istrinya, dan makam putranya, Sunan Prawoto
(Raden Hariyo Bagus Mukmin).
4.
Makam di sebelah barat Lasepuhan dan Kaneman, yang terdiri atas makam Pangeran
Arya Penangsang, Pangeran Jipang, Pangeran Arya Jenar, Pangeran Jaran
Panoleh.
Makam
lainnya, seperti makam Syekh Maulana Maghribi, Pangeran Benowo, dan Singo Yudo.
Di
bagian samping masjid ada ruangan kecil berfungsi sebagai museum penyimpan
benda-benda bersejarah. Di sini juga tersimpan bekas tiang soko guru dan sirap
karena masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi, tetapi sebagian besar
masih asli. Ada pula kentongan kuno dan yang sangat menarik ada
kitab tafsir Al Qur'an hasil tulisan tangan Sunan Bonang yang tersimpan
dalam lemari kaca
Di
sekitar masjid terdapat sejumlah penginapan. Di samping itu, juga terdapat
banyak penjual makanan, minuman, cinderamata, dan oleh-oleh untuk dibawa
pulang.
Jika
anda sedang bepergian melalui pantai utara jawa (Semarang ke timur), maka
sangat sayang jika anda melewatkan obyek wisata lokal Religi yang satu
ini. Disamping berwisata ditempat ini pula kita bisa belajar tentang sejarah
penyebaran dan perkembangan agama Islam di tanah jawa, Khususnya pada masa
pemerintahan kerajaan Demak Bintoro.
Related Posts
3 comments:
pelancongnekad mengatakan...
salah satu bukti penyebaran
islam di Indonesia
mantap lah
;-)
*tautannya dah nangkring di laman saya*
cakidot :-D
mantap lah
;-)
*tautannya dah nangkring di laman saya*
cakidot :-D
sapro flasher
mengatakan...
siap.. makasih bimbingannya
Aqiqah Murah
mengatakan...
Suatu hari nanti, Aqiqah Murah akan
mampir ke Masjid Agung Demak :)
Poskan Komentar
CHOOSE LANGUANGE
Popular Posts
Museum Dirgantara Mandala berlokasi di
ujung utara Kabupaten Bantul dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Sleman
tepatnya di area komp...
Tempat wisata Jogja yang satu ini memang
jarang di temukan di kota lain, selain unik dan menarik tempat ini juga sangat
mendidik anak-an...
“JASMERAH”.. Jangan Sekali-kali Melupakan
Sejarah. Membaca Ungkapan diatas, Pikiran kita langsung tertuju pada diri
sang Proklamator k...
Berlokasi sekitar 1 kilometer dari pusat
kota Magelang, tepatnya ke arah selatan atau sekitar 19 Kilometer dari
Candi Borobudur . Taman ...
Indonesia terkenal dengan
kemajemukan budaya. Keberagaman suku, agama, dan ras yang terkandung
dalam nilai ke Bhineka an. Selain itu, ...
Monumen Simpang Lima Gumul adalah salah
satu ikon baru dari objek wisata lokal yang ada di kediri. Terletak di
persimpangan arah selatan...
Mirip nasi tumpeng ya!! Sayangnya ini
bukan makanan, ini adalah Monumen Jogja Kembali. Monumen yang di bangun untuk
menge...
Berlokasi di Jl. Taman, Kraton, Yogyakarta
55133. Istana Taman sari adalah Taman kerajaan atau pesanggrahan Sultan
Yogya dan keluarg...
all image from:http://kidsfun.co.id Inilah
tempat wisata lokal yang sangat cocok sebagai tempat rekreasi keluarga dengan
fasilitas t...
Kota Blitar selain terkenal dengan Bung
Karno nya, Ternyata Blitar juga mempunyai situs atau Candi yang sayang untuk
tidak anda kunjun...
LINK BLOGGER
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
iklan anda
<p>Your
browser does not support iframes.</p>
<p>Your browser does not support
iframes.</p>





